
Indeks Dolar AS (DXY) melemah dan bergerak di bawah level 97,50 pada perdagangan Asia hari Selasa (9/7), setelah mencatat lonjakan lebih dari 1% pada sesi sebelumnya. DXY sempat menguat karena lonjakan penghindaran risiko menyusul pengumuman tarif baru dari Gedung Putih, namun kembali melemah karena pasar mulai mempertimbangkan potensi penurunan suku bunga Federal Reserve di tengah tekanan fiskal AS yang meningkat.
Apa penyebabnya? Presiden Donald Trump menandatangani perintah eksekutif pada Senin malam yang menunda penerapan tarif baru hingga 1 Agustus, memberi waktu tambahan bagi negara-negara mitra dagang untuk merespons. Namun, daftar negara yang dikenakan tarif diperluas secara signifikan, termasuk Jepang, Korea Selatan, Malaysia, Indonesia, Bangladesh, dan negara-negara ASEAN lainnya. Tarif bervariasi dari 25% hingga 40%, dengan ancaman tambahan 10% untuk negara yang dianggap "pro-BRICS."
Dolar AS juga menghadapi tekanan dari ekspektasi penurunan suku bunga lebih lanjut oleh The Fed, meskipun data ketenagakerjaan AS yang kuat sempat meredakan kekhawatiran pasar. Di sisi lain, keputusan Trump yang baru-baru ini menandatangani paket stimulus fiskal besar ("Big Beautiful Bill") berupa pemotongan pajak dan peningkatan belanja pemerintah memicu kekhawatiran tentang pelebaran defisit anggaran AS.
Bagaimana pasar merespons? Meskipun risiko geopolitik dan ketegangan dagang meningkat, para pelaku pasar mulai berhati-hati menilai kekuatan jangka panjang dolar. Dengan DXY yang kembali ke kisaran 97,30, pasar kini menunggu sinyal lebih lanjut dari The Fed dan Gedung Putih soal arah kebijakan moneter dan fiskal ke depan. Dalam jangka pendek, dolar mungkin tetap fluktuatif seiring pasar mencerna campuran sinyal dari ekonomi dan politik AS.
Source: newsmaker.id
Pasangan USD/CHF melemah untuk hari ketiga berturut-turut dan diperdagangkan di sekitar level 0,7960 pada awal perdagangan Eropa hari Selasa. Franc Swiss menguat karena meningkatnya permintaan aset am...
Indeks Dolar AS (DXY) cenderung lesu di area 99,06 pada perdagangan Senin (19/1), karena likuiditas menipis saat pasar AS libur memperingati Martin Luther King Jr. Day. Meski pergerakan terbatas, sent...
Dolar AS diperkirakan akan naik untuk hari ketiga berturut-turut pada hari Kamis (8/1), tetapi perdagangan tetap berhati-hati karena investor mengambil posisi menjelang laporan Nonfarm Payrolls (NFP) ...
Indeks dolar sedikit naik ke 98,5 pada hari Selasa, level terkuatnya dalam lebih dari dua minggu, karena investor fokus pada serangkaian data ekonomi penting untuk AS. Indikator terbaru menunjukkan ad...
Dolar Amerika Serikat membuka awal tahun 2026 dengan kondisi lemah pada perdagangan Jumat(2/1). Sepanjang tahun lalu, dolar tertekan oleh banyak mata uang utama akibat menyempitnya perbedaan suku bung...
Harga minyak stabil pada perdagangan Kamis (12/2), seiring pasar kembali melihat risk premium terhadap tensi AS “ Iran meski data persediaan AS menunjukkan suplai domestik membengkak. Pergerakan ini menegaskan satu hal: headline geopolitik masih...
Harga emas melemah tipis pada Kamis (12/2), seiring data ketenagakerjaan AS yang lebih solid mengurangi keyakinan pasar terhadap pemangkasan suku bunga Federal Reserve dalam waktu dekat. Kuatnya data pekerjaan mendorong pelaku pasar menggeser...
Indeks Hang Seng berbalik turun pada perdagangan terbaru di Hong Kong hari Kamis (12/2), melemah sekitar 0,9% dan turun ke kisaran 27.0 ribu setelah sesi sebelumnya sempat menguat. Pelemahan ini memutus momentum reli jangka pendek, seiring investor...